riau24

Karena Ulah Petinggi PDIP, Nama Indonesia di Mata Dunia Tercoreng, ini Alasannya

04 Jun 2018 | 04:47 WIB
Bambang Wuryanto yang perkataannya sempat viral karena menyebutkan kantor media bisa rata dengan tanah TIM BERKAS Bambang Wuryanto yang perkataannya sempat viral karena menyebutkan kantor media bisa rata dengan tanah
Riau24.com- Akibat dari ulah petinggi PDI Perjuangan, nama baik Indonesia di dunia pers internasional dan khususnya ASEAN, menjadi tercoreng.

Terlebih lagi adanya pernyataan dari Ketua PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto yang menyebut bahwa kantor media bisa rata dengan tanah apabila memuat berita yang menyinggung pemimpin partainya.

Hal itulah yang menjadi penyebab nama baik Indonesia itu tercoreng di mata internasional.

Menurut keterangab Wakil Presiden Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ), Teguh Santosa selama ini dalam berbagai forum wartawan ASEAN, praktik kebebasan berpendapat dan kemerdekaan pers di Indonesia kerap dijadikan sebagai model. 

Padahal selama ini, terutama pasca Orde Baru, ada semacam kecemburuan dari kalangan wartawan ASEAN melihat kemerdekaan pers di Indonesia. 

Ini karena praktik kemerdekaan pers di Indonesia dinilai cukup asyik dan baik. Meskipun hal itu terlepas dari indeks kemerdekaan pers yang dirilis Reporters Without Borders setiap tahunnya.

“Prinsip self regulation yang dianut masyarakat pers nasional menjadi contoh yang diidam-idamkan dan coba ditiru di negara-negara ASEAN lainnya," kata Teguh yang dilansir dari rmol.co, Senin, 4 Juni 2018.

Dia menambahkan, prinsip self regulation yang didasarkan pada UU 40/1999 tentang Pers, Dewan Pers yang dibentuk masyarakat pers nasional menjadi instrumen paling utama yang bertugas untuk melindungi kemerdekaan pers dengan berbagai kegiatan.

Adapun yang dimaksud melindungi kemerdekaan pers itu mulai dari mendorong peningkatan kapasitas kerja wartawan dan profesionalisme perusahaan media, hingga penyelesaian sengketa atas pemberitaan atau karya jurnalistik produk pers. 

Disatu sisi, pernyataan yang bernada ancaman yang dikatajan oleh Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI Bambang Wuryanto juga sangat berbahaya. 

Karena, hal itu disampaikan langsung oleh seorang pejabat penting partai dan bisa dimaknai sebagai bentuk instruksi atau restu kepada kader dan simpatisan partai, untuk melakukan represi sekeras mungkin terhadap media. 

"Saya khawatir ini bisa memicu kekerasan terhadap wartawan dan media hingga ke level yang sangat sadis dan tak terbayangkan sebelumnya," sebut Teguh.     

Pernyataan dari Bambang yang mengatakan "rata dengan tanah" terkait tanggapan dia tentang pemberitaan Radar Bogor yang menyoroti aktivitas dan gaji Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). 

"Kalau pemberitaan kayak begitu, Radar Bogor memberitakan di Jawa Tengah, saya khawatir itu kantornya rata dengan tanah," lanjut Bambang.

Meski demikian, Teguh mengapresiasi seruan Megawati Soekarnoputri yang disampaikan putranya, Prananda Prabowo agar seluruh simpatisan dan kader PDIP menjaga hubungan baik dengan media. 

Prananda Prabowo yang juga Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP, meminta agar ketidakpuasan terhadap pemberitaan media ditempuh dengan cara-cara yang telah diatur oleh undang-undang. 

"Semoga pernyataan yang disampaikan ini dapat menghindarkan situasi terburuk yang bisa membahayakan kemerdekaan pers kita," tutup Teguh.
Penulis: TIM BERKAS





Loading...